|
Ditulis Oleh Tia Aweni D. Paramitha
|
|
Thursday, 19 August 2010 |
 ilustrasi Di kapal ferry Merak-Bakahuni, Gunadi Triwarsana
berkenalan dengan pelaku pesugihan Kalong Wewe. Laki-laki bernama Razak Hanan
itu sangat kaya karena kesuksesan ritual
gaib yang dilakukannya. Bahkan dia terhitung sebagai orang terkaya di provinsi
Lampung. Secara terbuka, Razak Hanan mengajak Gunadi ke goa misterius di kaki
Gunung Rajabasa tempat Razak bertemu raja Kalong Wewe. Gunadi diajak melakukan
pesugihan tapi menolak. Lalu, apa yang terjadi setelah Gunadi menolak? Baca
kisah lengkapnya di bawah ini.
Terbentur
oleh usaha dagang yang bangkrut, aku, Gunadi Triwarsana, panik lalu mencari peruntungan di daerah
Lampung. Hal ini kujalani setelah aku
ditolak bekerja dan dijauhi oleh sanak famili di Jakarta karena kebangkrutan
itu.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
Ditulis Oleh Yudhistira
|
|
Friday, 18 June 2010 |
|
Tokek berukuran tubuh besar belakangan
banyak dikejar karena berharga mahal. Harga tokek jenis ini sungguh mencengangkan
dan menggoda akal sehat, yaitu harganya bisa mencapai Rp 500 juta. Juragan tokek,
Nursalim, menemukan banyak keanehan selama tiga tahun berdagang tokek. Bahkan
dia menemukan banyak hal ganjil dan gaib di balik hewan merayap itu. Pengalaman
Nursalim itu, dicatat Yudhistira untuk
Misteri Sejati. Di bawah ini kisahnya…
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
Ditulis Oleh Jemi Haryanto
|
|
Friday, 11 June 2010 |
|
Kisah ini dituturkan langsung oleh
pelaku yang meminta nama aslinya dirahasiakan. Sebut saja namanya Tarno. Lelaki
dengan seorang istri dan dua anak anak ini menetap di sebuah desa kecil yang
cukup jauh di ujung Kabupaten Kubu Raya. Sebuah desa yang sepi dari hiruk
pikuk, namun di tempat itulah Tarno dilahirkan dan dibesarkan sehingga dapat
menghantarkannya menduduki posisi terhormat dengan menjadi seorang suami
sekaligus ayah. Berikut kisah mistik yang dituturkan Tarno selengkapnya. ***
|
|
baca selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Budiono Dayak
|
|
Wednesday, 05 May 2010 |
|
MENJELANG tengah
malam, diskotik mungil di pinggiran jalan kawasan Legian itu mendadak sesak
dijejali pengunjung. Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang kulit
putih. Mereka duduk berimpitan di atas kursi-kursi rotan, sebagian lain
berdansa mengikuti irama disco yang dinamis dari lagu I Wanna Be Rich. Bau alkohol
memenuhi udara. Asap rokok berputar mengikuti putaran lampu estetik membentuk
fantasi khas pesta malam.
I Made Nuarta
menyedot sigaretnya dalam-dalam sambil menenggelamkan punggungnya ke sandaran
kursi yang terletak di sudut ruangan. Matanya menyipit memperlihatkan
gerak-gerik seorang perempuan bule berambut pirang, bercelana jeans ketat, yang
sedang asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya di lantai dansa
Berkali-kali
Made Nuarta tersenyum lebar dengan wajah puas. Jeane mestinya memang menikmati
seluruh waktu liburannya dengan cara begitu. Bergembira ria, hura-hura, lalu
sedikit asap rokok dan minuman beralkohol, sebelum dia kembali ke negaranya dan
tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh misteri
|
|
Monday, 15 March 2010 |
 Majalah Misteri Edisi 485 08 FANTASTIK
Cat Mobil dengan 200
Cat Kuku.
Umur 13 tapi Tampak
Tua.
Patung Termahal di
Dunia.
12 SAJIAN UTAMA
Rahasia Menangkal
Guna-Guna Asmara
36 JELAJAH
Menjelajah Gua-Gua Di
Hutan Bahorok.
42 PARAVISI
Menghitung Kualitas
Umur Dalam Kehidupan
MISTERI SEJATI
60 Keraton Setra
Ganda Mayit Hunian Para Dedengkot Iblis.
68. Kekuatan Gaib
Cincin Badar Besi.
72 Diserang Penyakit
Gaib Setelah Monolak Mengintimi Seorang Gadis
80 Wanita Misterius
Itu Menularkan AIDS Di Tubuhku.
|
|
baca selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Jemy Haryanto
|
|
Tuesday, 29 September 2009 |
|
Malam itu udara
terasa sangat dingin dan lembab. Karena beberapa menit yang lalu hujan turun
cukup deras. Menyebabkan kondisi pada jalan jalan utama di sekitar kota pontianak,
yang tadinya kering dan berdebu, kini tampak basah dan tergenang oleh air.
Sementara jam di tanganku sudah menunjukan pukul. 01.00 dini hari. Waktu dimana
seharusnya aku sudah melabuhkan tubuhku di atas ranjang dan kemudian berlayar
menelusuri samudra mimpi yang tiada bertepi. Namun kenyataannya aku sendiri
masih on the way, berputar putar dari sudut ke sudut yang lain dalam kota itu, guna memantau
situasi. Maklumlah sebagai seorang wartawan kriminal yang ditempatkan pada desk
kriminal, hal tersebut sudah menjadi kebiasaanku, biasanya seusai deadline dan
evaluasi di kantor. Karena pikirku yang namanya kriminal, kapan dan dimana saja
bisa terjadi, bahkan tak kenal waktu. Apalagi dalam bulan bulan ini tingkat
kejahatan naik signifikan, jadi memang harus selalu waspada. Tak lama handpone
dalam sakuku bergetatar, menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. “ Mudah
mudahan ada informasi hangat mengenai suatu peristiwa yang terjadi malam ini,”
ucapku dalam hati sambil merogohkan tanganku ke dalam saku celana.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
|
|
Friday, 11 September 2009 |
Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar. Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4 Februari 2000). Sejak zaman prasejarah dahulu suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongoloid)(Sulaksono, 2004:2). |
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|