|
Ditulis Oleh Jemy Haryanto
|
|
Tuesday, 29 September 2009 |
|
Malam itu udara
terasa sangat dingin dan lembab. Karena beberapa menit yang lalu hujan turun
cukup deras. Menyebabkan kondisi pada jalan jalan utama di sekitar kota pontianak,
yang tadinya kering dan berdebu, kini tampak basah dan tergenang oleh air.
Sementara jam di tanganku sudah menunjukan pukul. 01.00 dini hari. Waktu dimana
seharusnya aku sudah melabuhkan tubuhku di atas ranjang dan kemudian berlayar
menelusuri samudra mimpi yang tiada bertepi. Namun kenyataannya aku sendiri
masih on the way, berputar putar dari sudut ke sudut yang lain dalam kota itu, guna memantau
situasi. Maklumlah sebagai seorang wartawan kriminal yang ditempatkan pada desk
kriminal, hal tersebut sudah menjadi kebiasaanku, biasanya seusai deadline dan
evaluasi di kantor. Karena pikirku yang namanya kriminal, kapan dan dimana saja
bisa terjadi, bahkan tak kenal waktu. Apalagi dalam bulan bulan ini tingkat
kejahatan naik signifikan, jadi memang harus selalu waspada. Tak lama handpone
dalam sakuku bergetatar, menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. “ Mudah
mudahan ada informasi hangat mengenai suatu peristiwa yang terjadi malam ini,”
ucapku dalam hati sambil merogohkan tanganku ke dalam saku celana.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
Ditulis Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
|
|
Friday, 11 September 2009 |
Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar. Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4 Februari 2000). Sejak zaman prasejarah dahulu suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongoloid)(Sulaksono, 2004:2). |
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
Ditulis Oleh Dhany
|
|
Friday, 10 July 2009 |
|
Rumah di Pulau Rakit itu tidak begitu megah tetapi punya daya tarik
sangat kuat. Keunikan rumah seluas 70 meter persegi itu, bukan karena model ataupun
pernak-pernik ornamennya melainkan, keberadaan binatang carnivora yang
berkeliaran di sekelilingnya.
Binatang reptil pemakan daging itu dengan santainya bercanda di pelataran
depan rumah, di kebun samping maupun halaman belakang rumah. Pemilik rumah itu,
Dartim, 60 tahun, lebih unik lagi sebab, selain tidak merasa takut, lelaki
ubanan itupun seakan tidak pernah merasa terganggu atas keberadaan biawak-biawak
berukuran besar itu. Tetapi, yang tidak kalah uniknya, pria tamatan SR (setara
SD) itu betah menduda sejak ditinggal mati istrinya beberapa tahun silam.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Dhany
|
|
Friday, 26 June 2009 |
Pedalaman Kalimantan sangat angker diantara pulau-pulau lain di Indonesia. Keangkerannya sudah menjadi rahasia umum khususnya di kalangan pekerja proyek jalur lintas Kalimantan Selatan maupun para transmigran. Wingit dan keangkeran belantara Kalimantan Selatan tidak dapat bisa dijumpai hutan manapun di Pulau Jawa. Masyarakat di daerah Sungai Nyamuk, Desa Lampahan, Kabupaten Kota Baru, Propinsi Kalimantan Selatan sudah tidak aneh berpapasan maupun dihampiri jin berwujud aneh baik pada malam hari maupun di siang bolong. Diantara lebatnya pohon-pohon tua berpostur raksasa, diyakini menjadi pusat Kerajaan Jin. |
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Ono S. Haiasan
|
|
Thursday, 11 June 2009 |
Lahan kosong milik PT.PERURI yang berlokasi sekitar 300 meter dari
komplek kostrad 305 teluk jambe, tepatnya di kampung Suka manah
RT.15/09 desa Teluk jambe kec. Teluk jambe timur, Karawang, jabar itu,
sudah lama dibiarkan mangkrak dan terkenal angker. Karena warga
setempat tak ada yang berani mendekat atau memasuki kawasan tersebut.
Satu-satunya orang yang sering memasukinya hanyalah kang Hendra(48)
warga sekitar yang memiliki kebun di sebelah lahan wingit tersebut.
Dengan tidak adanya yang berani mendekat apa lagi memasukinya, praktis
hampir setiap hari kawasan tersebut diselimuti suasana sepi dan senyap.
Hingga kesan angkerpun terasa semakin kuat. Padahal jika dipikir,
seharusnya tidak demikian. Karena tak jauh dari lahan tersebut ada
jalan makadam yang kadang dipergunakan warga sekitar untuk memotong
jalan masuk kampung tersebut. |
|
baca selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Veren Fortun
|
|
Friday, 01 May 2009 |
|
Cerita
ini merupakan pengalaman pribadi penulis saat pertama belajar ilmu
terawangan. Supaya lebih hidup penulis dipanggil “ Aku “.
Berawal
dari coba-coba, aku naik turun gunung mencari guru spritual yang
handal. Bahkan majalah kesayangan ini pun tak luput dari dahaga akan
ilmu ghaib. Aku terus mencari keberbagai tempat, mulai dari memasuki
hutan angker di punden-punden keramat, sungai, dan lain-lain hanya
untuk sekedar mengasah kemampuan diri yang kumiliki. Aku ditemani oleh
pak Asor, sebagai guru spritual. Tak jarang pepatah bilang “ Ilmu
ginawuh kelawan lelaku “ betul-betul dirasakan.
Sebagai
Odi, seorang pemuda belia yang masih ngangsu kaweruh akan ilmu yang
dimiliki, aku tak pernah putus asa untuk terus menguji kemampuan.
Sehingga suatu hari pak Asor menyuruh Odi untuk pergi ke hutan, untuk
mencari tempat agar Odi bisa benar-benar merasakan kemampuan yang
dimiliki.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Itong R.Hariyadi
|
|
Friday, 06 March 2009 |
|
Kete Kesu ibarat satu titik dari sekian banyak situs
obyek wisata di Tana Toraja (Tator). Hanya saja, hamparan hijau yang biasanya
berupa hamparan padi, di musim kemarau berubah menjadi hamparan rumput. Kete
Kesu berada dalam wilayah Lingkungan Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong,
Kecamatan Sanggalangi. Dari pusat kota
wisata Rantepao, jaraknya sekitar 4 kilometer. Untuk mencapai daerah itu sangat
mudah. Dari jalan poros antara Makale (ibu kota Tana Toraja), dan Rantaepao,
pengunjung berbelok ke jalan kecil sejauh 3 kilometer yang bisa dilewati dua
kendaraan. Hanya di beberapa ruas jalan selain menyempit, terlihat aspal jalan
mengelupas dan berlubang-lubang.
|
|
Silakan Login Untuk Baca Selanjutnya...
|
|
|